|
Redaksi
R&D Center bekerjasama dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melakukan uji coba lapangan atau field trial. Sistem Peringatan Dini Tsunami Dengan Memanfaatkan VIPO (Virtual Phone), yang berlangsung 17-19 Januari 2010 di Pangandaran.
R&D Center bekerjasama dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melakukan uji coba lapangan atau field trial Sistem Peringatan Dini Tsunami Dengan Memanfaatkan VIPO (Virtual Phone), yang berlangsung 17-19 Januari 2010 di Pangandaran. Sistem peringatan dini tsunami dengan memanfaatkan VIPO merupakan salah satu sistem penyebaran informasi bencana, khususnya bencana tsunami, kepada masyarakat secara langsung. Sistem ini dirancang agar mudah diimplementasikan, murah dalam biaya perawatan serta CPE yang terjangkau oleh masyarakat.
“Pengembangan VIPO dimulai Januari 2008 - Desember 2009. Secara spesifik, untuk pengembangan aplikasi dilakukan selama 9 bulan mulai Maret – November 2009, sedangkan untuk field trial di Pangandaran dilaksanakan dari tanggal 17-19 Januari 2010,”ungkap Wiseto P Agung, SM RDSP-RDC selaku PM, dengan anggota Tim RDC Haryo Santoso, Samudra Prasetyo, Rakhman Imansyah, Rudi Sunarno dan Deni Risnandar.
Setelah melalui tahapan riset selama lebih dari 9 bulan, lanjutnya, tim RDC dan tim BMKG didampingi oleh tim Dirjen Postel sebagai penanggung jawab program riset sistem peringatan dini tsunami memanfaatkan VIPO yang didanai oleh Asean ini, melakukan uji coba lapangan di pantai Pangandaran – Tasikmalaya dan sekitarnya. “Dengan adanya sistem ini, diharapkan masyarakat mendapatkan informasi secara langsung akan kemungkinan terjadinya tsunami secara cepat, sesaat setelah BMKG mendeteksi potensi tsunami, sehingga mereka dapat mengambil tindakan secara cepat,”tambahnya.
Sistem ini, jelas Wiseto, juga berguna untuk memberikan peringatan dini bagi warga, terutama di daerah rawan tsunami seperti pesisir pantai, apabila terindikasi adanya kemungkinan timbul tsunami. Sistem ini dihubungkan dengan sistem BMKG sebagai pengendali utama detektor tsunami dan sistem akses untuk diseminasi informasi. Dalam sistem yang dikembangkan, informasi akan disebarkan dengan ‘menumpang’ kanal siaran radio FM yang digunakan oleh broadcaster radio, atau dikenal dengan SCA (subsidiary carrier authorization).

“Dengan metoda ini, seseorang yang sedang mendengarkan siaran radio, akan mendapatkan informasi mengenai bahaya tsunami secara realtime (kurang dari 1,5 menit), setelah sistem mendapatkan informasi dari BMKG,”jelas Wiseto.
Lebih jauh dijelaskan, uji coba lapangan dilakukan untuk mengetes reliabilitas dan daya jangkau dari sistem dalam mengirimkan informasi ke perangkat yang digunakan oleh pengguna. Untuk mengirimkan data, Tim menggunakan pemancar mini dengan kekuatan 300W dan tinggi antenna 40m di frekuensi 88MHz. Data dikirim setiap 1 menit oleh server yang berisi informasi dari BMKG perihal terjadinya gempa dan kemungkinan terjadinya tsunami.

Berkat kerjasama yang baik diantara sesama anggota tim dan dibantu oleh rekan TELKOM – Pangandaran, menurut Wiseto, uji coba mendapatkan hasil yang memuaskan. Pengukuran dilakukan untuk lebih dari 10 titik mulai dari sekitar pantai Pangandaran, hingga jarak udara yang terjauh adalah 18,59 km yaitu di lokasi Batu Karas.
Hasil uji coba lapangan juga mendapatkan apresiasi yang baik selain dari tim internal, juga dari BMKG, Dirjen Postel dan TELKOM – Pangandaran, yang dibuktikan dengan ikut sertanya mereka secara langsung dalam pengukuran yang dilakukan.

Pihak BMKG mengakui bahwa sistem ini merupakan salah satu sistem idaman mereka, karena informasi bisa sampai ke langsung ke masyarakat tanpa memerlukan biaya operasional pemeliharaan yang tinggi. BMKG bahkan mengharapkan agar tidak hanya informasi tsunami yang dikirimkan, tetapi juga informasi cuaca dan bencana lain. Selain itu, informasi berita juga diharapkan bisa dikirim untuk memperkaya informasi bagi masyarakat., khususnya yang tinggal di pesisir pantai.***RED*** |